Indonesia adalah negeri yang kaya sumber daya energi, tetapi masih menghadapi paradoks ketahanan energi. Di tengah melimpahnya potensi surya, hidro, panas bumi, biomassa, dan bioenergi, Indonesia masih bergantung pada energi fosil dan impor energi. Pada saat yang sama, setelah lebih dari setengah abad mengembangkan kemampuan teknologi nuklir, Indonesia belum juga memiliki pembangkit listrik tenaga nuklir.
Apa yang terjadi jika Indonesia memilih untuk tetap tanpa nuklir hingga 2045? Pertanyaan ini menjadi semakin penting ketika kebutuhan energi melonjak akibat industrialisasi, hilirisasi mineral, kendaraan listrik, pusat data, kecerdasan buatan, dan ekonomi digital. Buku ini mengajak pembaca melihat persoalan tersebut secara terbuka: bukan dengan menempatkan nuklir berhadapan dengan energi terbarukan, tetapi dengan mencari bagaimana seluruh sumber energi dapat saling melengkapi untuk membangun sistem energi yang andal, mandiri, dan berkelanjutan.
Di dalamnya, dibahas pula peluang besar Indonesia mengembangkan biometana dari limbah kelapa sawit, syngas dari biomassa dan sampah organik, serta potensi sawit, sagu, kelapa, pinang, dan aren sebagai fondasi bioekonomi dan energi masa depan. Dengan kekayaan geografis dan sumber daya yang dimiliki, Indonesia sebenarnya mempunyai banyak pilihan. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana menghubungkan semua potensi itu dalam kebijakan yang konsisten dan visi jangka panjang.
Buku ini mengajak kita melihat 2045 bukan sekadar sebagai sebuah target waktu, tetapi sebagai konsekuensi dari keputusan yang dibuat hari ini. Ketahanan energi Indonesia tidak ditentukan oleh satu sumber energi, melainkan oleh keberanian untuk mengambil keputusan, mengintegrasikan seluruh potensi, dan membangun masa depan energi yang mampu menopang kemandirian serta kesejahteraan bangsa.





Reviews
There are no reviews yet.