Memoar reflektif ini mengajak pembaca menyusuri perjalanan hidup seorang anak dari keluarga sederhana di Tarakan yang tumbuh di tengah keterbatasan ekonomi, disiplin keras, dan sekolah yang tidak selalu ramah. Dari masa kecil penuh permainan kasti dan layangan, kegagalan belajar matematika, hukuman rotan, hingga tekanan birokrasi dan serangan kecemasan yang nyaris menghancurkan, Afri ST. Padan dengan jujur mendedah bagaimana kelelahan, ketidakpastian, dan ketimpangan titik awal membentuk ketangguhan batinnya. Menganyam pemikiran Stoik, pelajaran alam, psikologi, dan pengalaman pribadi, ia mengubah fase sulit menjadi proses pendalaman diri yang penuh makna.
Bukan kisah sukses yang gemerlap, melainkan catatan seorang peziarah yang belajar menerima luka, melepaskan internalized failure, dan menemukan kekuatan dalam kesabaran serta penerimaan. Melalui refleksi bulanan yang semakin tenang dari tahun 2023 menuju 2024, penulis berubah dari orang yang menulis untuk melawan kegelisahan menjadi orang yang menulis untuk menyembuhkan dan menata hati. Dari rumah sederhana, buku paket sekolah, hingga jabatan sebagai kepala dinas, ia menyadari bahwa ketenangan bukan hadiah dari keadaan yang mudah, melainkan sesuatu yang dibangun pelan-pelan dari dalam.
Buku ini menjadi ruang jeda bagi siapa pun yang pernah merasa berjuang tanpa terlihat maju, yang lelah memikul beban kegagalan, atau yang sedang mencari ketenangan di tengah tuntutan hidup. Dengan bahasa yang lembut namun dalam, memoar ini mengingatkan: hidup tidak selalu meminta kita menjadi luar biasa. Kadang ia hanya meminta kita setia pada proses, jujur pada perasaan, dan berani melanjutkan langkah meski tanpa kepastian.





Reviews
There are no reviews yet.