Setiap anak memiliki kerinduan untuk dimengerti, diterima, dan memiliki sahabat. Namun bagi anak autisme, keterbatasan dalam berbahasa, berkomunikasi, dan berinteraksi sering kali membuat mereka terpinggirkan, bahkan mengalami penolakan dalam lingkungan sosial.
Buku ini hadir sebagai sebuah jawaban atas kesenjangan tersebut. Melalui pendekatan teologis yang berakar pada kisah persahabatan Daud dan Yonatan dalam 1 Samuel 18:1–5, penulis menghadirkan pemahaman bahwa persahabatan sejati tidak ditentukan oleh kondisi atau keterbatasan seseorang. Persahabatan adalah relasi yang hidup, dinamis, dan bertumbuh melalui kasih yang tulus.
Lebih dari sekadar refleksi, buku ini menawarkan pola praktis dalam membangun relasi dengan anak autisme. Inisiatif untuk mendekat, komunikasi yang intens dan konsisten, serta kemampuan untuk memahami kebutuhan mereka menjadi kunci utama. Semua itu diwujudkan melalui sikap sabar dan kesediaan menciptakan ruang yang aman dan nyaman bagi mereka untuk bertumbuh.
Buku ini mengajak setiap pembaca untuk melihat bahwa persahabatan bukan hanya mungkin bagi anak autisme, tetapi juga dapat menjadi jembatan kasih yang memulihkan, menguatkan, dan memberi harapan.










Reviews
There are no reviews yet.