Tarakan, kota pulau yang dijuluki “Little Singapore”, menyimpan kisah tentang ketangguhan dan harmoni. Dari kota kecil di utara Kalimantan ini, Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Cabang Tarakan lahir sebagai lentera yang menuntun persaudaraan lintas etnis dan generasi.
Berawal dari luka sejarah Tragedi Mei 1998, PSMTI menjadi ruang penyembuhan sekaligus pengabdian. Di Tarakan, semangat itu diwujudkan oleh tokoh-tokoh seperti Bagong dan Hendra Gunawan yang dengan tangan kosong membangun fondasi solidaritas melalui doa, aksi sosial, dan kerja sukarela.
Dari bantuan banjir, beasiswa anak marginal, hingga tarian naga yang berpadu dengan budaya Dayak, semua menegaskan bahwa persatuan dapat tumbuh dari keberagaman.
Buku ini menghadirkan mozaik manusiawi tentang visi, dedikasi, dan gotong royong yang mengubah Tarakan menjadi simbol multikulturalisme Indonesia.
Melalui kisah nyata dan refleksi mendalam, pembaca diajak menelusuri bagaimana luka bisa menjadi cahaya, dan bagaimana sebuah paguyuban mampu menjembatani masa lalu, masa kini, dan masa depan dalam harmoni sosial yang hidup.









Reviews
There are no reviews yet.