R. Masri Sareb Putra, M.A.,

R. Masri Sareb Putra, M.A., lahir di Jangkang Benua, Sanggau, Kalimantan Barat, pada 23 Januari 1962.

Sejak belia, Masri menunjukkan ketertarikan mendalam pada budaya dan etnologi, minat yang kemudian mengantarnya menekuni filsafat dan teologi di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana, Malang. Saat ini, ia tengah merampungkan studi doktoralnya di sebuah perguruan tinggi negeri di Palangka Raya, menegaskan kesungguhannya di dunia akademik dan penelitian budaya.

Sebagai penulis, Masri dikenal produktif sekaligus prolifik. Hingga kini, ia telah menerbitkan 221 buku ber-ISBN. Di antaranya Dayak Djongkang—pemenang Insentif Buku Ajar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI/DP-2M Dikti pada 2010—, 101 Tokoh Dayak dalam tiga jilid, Ngayau, dan Orang-orang Hakka di Sanggau. Di luar itu, lebih dari 4.000 artikelnya telah terbit di berbagai media nasional maupun internasional. Reputasinya tercatat dalam Leksikon Sussastera Indonesia (2000: 390) sebagai salah satu sastrawan Angkatan 2000.

Anak keempat dari keluarga bergolongan darah B ini juga akrab dengan dunia jurnalistik. Ia pernah menjadi wartawan Suara Indonesia dan redaktur majalah mingguan Hidup. Kini, ia menjabat Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat di Institut Teknologi Keling Kumang, sekaligus memimpin Lembaga Literasi Dayak yang aktif memperkenalkan budaya Dayak melalui platform digital Bibliopedia.id.

Pada 2016, bersama Herkulana Mekarryani dan Surianyah Murhaini, Masri mendirikan Penerbitan Lembaga Literasi Dayak, yang berfokus mendokumentasikan tradisi lisan dan kearifan lokal. Ia juga mengajar Creative Writing di Politeknik Negeri Media Kreatif Jakarta, membimbing generasi muda dalam keterampilan menulis. Sebagian besar karyanya menyingkap mitos, tradisi, dan nilai-nilai budaya Dayak—menjadikannya jembatan antara warisan leluhur dan masyarakat modern.

Atas dedikasinya, pada 2023 ia menerima anugerah Iban Prize berkat penelitian dan publikasinya mengenai adat serta budaya Iban. Tak hanya berhenti pada ranah literasi, kiprah Masri juga meluas pada upaya pelestarian ekologi, spiritualitas, dan identitas budaya Dayak.

Dengan senyum periang dan kegemarannya pada lagu-lagu Koes Plus, Masri Sareb Putra meneguhkan dirinya sebagai salah satu figur penting dalam penguatan identitas budaya Indonesia. Lewat karya dan penelitian, ia menghadirkan wajah budaya Dayak yang hidup, relevan, sekaligus menginspirasi penulis dan peneliti muda di tanah air.

Dikenal sebagai penulis biografi, Masri menulis biografi sejumlah tokoh, antara lain: Iman & Akal Paus Benedictus XVI, Biografi Profesional Dr. A.B. Susanto: The Corporate Doctor 09.09.09 (2010), Dinar: Jenderal Berbelarasa (2016),Yakobus Kumis (2017),Tjhai Chui Mie (2020), Dengarkanlah Uskupmu: Biografi Mgr. Agustinus Agus (2020), Norhayati Andris (2020), Drs. Cornelis, M.H. (2021), dan L.C. Sareb: Ayah, Guru, dan Sahabat (2021).

      Selain dikenal luas sebagai sastrawan dan penulis, Masri menapaki jejak lain yang tak kalah penting: penelitian dan dunia akademik. Kini, ia dipercaya memimpin Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Puslitdianmas) di Institut Teknologi Keling Kumang, Sekadau, Kalimantan Barat. Dari ruang kerjanya yang bersahaja, Masri merajut jembatan antara pengetahuan, masyarakat, dan masa depan, sembari terus menulis dan meneliti dengan semangat yang sama seperti saat ia menekuni dunia sastra.

      Leave a Reply

      Your email address will not be published. Required fields are marked *