Buku ini lahir dari kesadaran bahwa sejarah masyarakat Iban tidak pernah hanya milik masa lalu. Ia adalah nyala obor yang diwariskan dari bilik-bilik gelap rumah panjang, dari tikar sirat yang menganyam ingatan, dan dari ruai yang menyaksikan tawa, tangis, perbalahan, serta perdamaian. Dasar penulisan buku ini, bahwa segala usaha yang dirangkum bukan sekadar dokumentasi sejarah, tetapi ikhtiar mengembalikan marwah pengetahuan Dayak Iban dalam kosmos budaya Nusantara. Sudah tiba waktunya naratif kembali ke tangan anak-anak dari ruai sendiri.
Penulis membahas perjalanan migrasi masyarakat Iban dari hulu Kapuas hingga Sarawak—migrasi sebagai pergerakan roh, adat, dan makna yang membentuk identitas, mengukir keberanian, ketahanan, dan kebijaksanaan. Rumah panjang menjadi pusat segala takdir, metafora bagi tubuh sebuah bangsa: ruai sebagai tulang belakang, bilik sebagai rusuk, dapur sebagai jantung, dan sirat sebagai kulit memori.
Maka ditegaskan bahwa tulisan ini bukan untuk memuja masa lalu, melainkan merapatkan kembali hubungan generasi hari ini dengan warisan yang kian pudar. Bagi nenek moyang, setiap kejadian alam adalah kosmologi kecil yang menghubungkan manusia dengan dunia roh. Buku ini mengajak pembaca kembali pada kesadaran bahwa alam dan manusia tidak pernah terpisah.
Penulisan ini memanfaatkan ratusan catatan lisan tua-tua kampung, lemambang, pembaca alamat, serta manuskrip lama dan hikayat. Salah satu aspek terpenting ialah peranan rumah panjang sebagai pusat kosmologi Iban—arsip budaya, mahkamah adat, balai perhimpunan, dan sekolah ilmu roh. Bagi generasi muda, buku ini menjadi jambatan untuk kembali memahami adat, pantang larang, sungai, bukit, dan alam sebagai guru yang tak pernah berhenti mengajar.










Reviews
There are no reviews yet.