Lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, 11 Desember 1964, Pepih Nugraha mulai mengenal dunia tulis-menulis dengan membaca banyak buku saat duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar. Tiga tahun kemudian, 1977, menjadi juara menulis se kabupaten dengan karya tulis berjudul Indonesia dan Satelit Palapa, sebuah karya tulis siswa kelas enam yang “mengatasi” zaman sekaligus tulisan peserta lainya yang rata-rata menulis pengalaman mereka berlibur di rumah kakek.
Kegemaran menulis berlanjut sampai menyelesaikan kuliah S1 Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran tahun 1990. Tahun itu juga mulai bekerja di Harian Kompas dan selama rentang empat tahun merupakan waktu yang subur dalam menulis fiksi maupun nonfiksi. Tulisan fiksi berupa cerpen dan cerbung dimuat antara lain di Majalah Hai, Bobo, Femina, Gadis, Nova, Anita Cemerlang dan majalah berbahasa Sunda, Mangle, baik dengan nama asli maupun nama pena, King Q. Laban, sedang tulisan berupa artikel dan opini dimuat antara lain di Harian Kompas, Bisnis Indonesia, Surya, Intisari, dan lain-lain.
Tahun 1994, ia menjalani pendidikan jurnalistik Kompas dan setahun kemudian resmi menjadi wartawan Harian Kompas yang harus menulis faktual, banyak meliput konflik di berbagai daerah di Indonesia, juga sempat berkeliling ke berbagai negara, yang memperkaya kembara batinnya. Sebagai jurnalis, kebiasaan menulis fiksi terpaksa harus dibunuh” dan baru berhasrat menulis fiksi lagi usai pensiun dini 1 Januari 2017 setelah bergabung selama 26 tahun di koran terbesar di Indonesia ini.
Tahun 2009, Pepih mendirikan Kompasiana yang kemudian menjadi blog sosial terbesar se-Asia Tenggara, sekaligus penanda masuknya kepenulisan di dunia digital, khususnya ranah media sosial. Di ranah baru ini, suami Tantri Sulastri serta ayah dari Zhaffran N. Munggaran dan Sylva A. Kurniaini akan melanjutkan kegemaran lamanya menulis fiksi yang kemudian dibukukan berupa dua novel, Alena dan Perempuan Penyapu Halaman Serta satu gerumbul cerpen, Dua Ustad.








