Upacarakan Aku dengan Darah Keturunan. Suatu rangkaian kata yang puitis atau provokatif yang menyiratkan kekuatan simbolik tentang identitas, akar budaya, dan warisan spiritual yang tertanam dalam tubuh manusia, tanah, dan sejarah.
Di dalamnya, tersimpan lima belas kisah pilihan berkonteks budaya yang otentik, terutama karena sebagian besar latarnya merujuk pada lanskap dan kehidupan masyarakat Borneo.
Cerpen-cerpen ini menghadirkan tokoh-tokoh yang berada di persimpangan antara tradisi dan modernitas. Kita akan bertemu dengan Orang-Orang Antagonis, menyelami kesunyian ketika Gong Tidak Berbunyi Lagi, merasakan kehilangan bersama Manik-Manik yang Hilang dari Leher Kumang, hingga merenungi makna keberadaan dalam Pintu di Belakang Langit.
Melalui kisah-kisah yang dituturkan dengan cermat dan penuh empati ini, pembaca diajak untuk melihat bagaimana warisan leluhur tidak sekadar hadir sebagai latar, melainkan hidup dan bernapas di tengah konflik batin, relasi antar manusia, dan pergulatan identitas. Narasi-narasi dalam buku ini mempertemukan spiritualitas yang meresap dalam tanah dan tubuh, dengan realitas sosial yang terus bergerak dan berubah. Di sanalah letak kekuatannya—menghadirkan ruang kontemplasi sekaligus pengakuan terhadap nilai-nilai yang sering terpinggirkan dalam arus besar budaya dominan.
Buku ini layak dibaca oleh siapa saja yang ingin memahami lebih dalam tentang kompleksitas manusia dan kebudayaannya, terutama dalam konteks masyarakat Borneo yang kaya namun kerap dilihat secara sepihak. Baik sastrawan, peneliti budaya, pegiat literasi, maupun pembaca umum akan menemukan resonansi emosional dan intelektual dalam setiap cerita. Semoga buku ini bukan hanya menjadi medium pembacaan, tetapi juga jembatan penghormatan bagi akar, darah, dan suara yang selama ini tersembunyi.



Reviews
There are no reviews yet.