Buku ini merupakan jilid kedua dari genre kumpulan cerpen karya Masri Sareb Putra, penulis produktif yang menggantungkan “asap dapur” semata dari menulis sejak 2014, dan hingga kini telah menerbitkan 218 buku ber-ISBN sejak 1987.
Buku kumpulan cerpen pertamanya, Bologna Raut Wajah Senja (2019), menandai awal eksplorasi fiksi pendeknya dengan gaya puitis, reflektif, dan berakar kuat pada lokalitas.
Dalam jilid kedua ini, Masri kembali menghadirkan cerita-cerita pendek yang bukan hanya memikat dari segi naratif, tetapi juga meresap secara emosional dan filosofis. Dalam setiap cerpen, ia menyulam pengalaman manusia yang puitis dan realistik, penuh paradoks dan kesenyapan. Di tangannya, hal-hal kecil dapat menjadi simbol, dan yang kasat mata menjelma kiasan yang dalam.
Dari 17 cerpen yang dikurasi dengan cermat, cerpen Kabut Leluhur di Sungai Utik menjadi episentrum tema, nilai, dan nuansa yang mengikat lembar demi lembar: tentang ingatan, kehilangan, pengabdian, dan jejak leluhur yang terus hidup dalam tubuh zaman.
Cerpen Kabut Leluhur di Sungai Utik dipilih sebagai judul karena mencerminkan ruh seluruh kumpulan: simpul ingatan, identitas, dan kesetiaan pada akar. Sungai Utik menjelma simbol tanah dan roh leluhur; dalam kabutnya, manusia diuji: menjaga warisan atau melupakannya. Sosok Apai Janggut tampil sebagai penjaga hutan sekaligus martabat. Nilai-nilai itu meresap ke seluruh kisah: tentang cinta sunyi, pengabdian, dan iman; menjadikan kumpulan ini cermin bagi siapa saja yang pernah kehilangan arah di tengah zaman.
Sementara itu, Tamu dari Cina menelanjangi kerakusan modern yang menyamar sebagai budaya dan investasi. Tanah dijual murah, tubuh dikorbankan, leluhur dilupakan. Akhirnya, tanah pun bicara—dengan longsor, kutukan, dan sunyi yang tak bisa ditebus kembali.



Reviews
There are no reviews yet.